Review – Mata yang Enak Dipandang

This is a book I read in Bahasa Indonesia, so the review also goes in Bahasa Indonesia  :). Warning, this is one long review.

Title : Mata yang Enak Dipandang
Author : Ahmad Tohari
Publisher :  PT Gramedia Pustaka Utama
Published : 2013
Page : 215 pages
My Rating : 4/5


Buku ini merupakan kumpulan lima belas cerita pendek Ahmad Tohari yang tersebar di sejumlah media cetak antara tahun 1983 dan 1997.

Seperti novel-novelnya, cerita-cerita pendeknya pun memiliki ciri khas. Ia selalu mengangkat kehidupan orang-orang kecil atau kalangan bawah dengan segala lika-likunya.

Ahmad Tohari sangat mengenal kehidupan mereka dengan baik. Oleh karena itu, ia dapat melukiskannya dengan simpati dan empati sehingga kisah-kisah itu memperkaya batin pembaca.

Thought on this book :

 

Pertama kali terpikat dengan buku ini, adalah karena tanpa sengaja saya menonton sebuah film pendek berjudul sama di Youtube. Ternyata film tersebut adalah adaptasi dari cerpen “Mata yang Enak Dipandang” oleh Ahmad Tohari, yang sedang diikutkan sayembara Book on Screen yang diadakan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Terus terang saja, saya menahan tangis saat menonton film tersebut. Ceritanya sederhana, mengangkat kisah orang miskin di tengah perkotaan. Meskipun film-nya rasanya juga tak terlalu profesional (terlebih menyangkut penataan suaranya), film ini tetap bagus bagi saya. Apalagi lagu latar yang digunakan juga, ugh, sangat menyentuh.

Hmm, kenapa malah jadi membahas film? Ya, ya. Itulah sedikit cuplikan latar belakang kenapa saya ingin membaca buku ini.

Mata yang Enak Dipandang berisi lima belas cerpen karya Ahmad Tohari. Sebelum ini, saya sudah pernah membaca Ronggeng Dukuh Paruk (versi satu buku). Ronggeng Dukuh Paruk sempat menjadi kontroversi di keluarga saya (Ibuk saya pernah akan membuangnya, untung terselamatkan. Hehehe), karena Ibuk saya menganggap buku tersebut terlalu vulgar.

Anyway, saya tak menyesal sama sekali telah membeli buku ini. Kovernya cantik, isinya pun secantik kovernya. Tulisan-tulisan Ahmad Tohari mempunyai gaya bahasa yang sederhana tapi tetap mengena. Bisa dibilang, indah bahkan di beberapa kalimat. Mungkin malah kesederhanaan prosanya yang membuat saya menyukai tulisan beliau. Tema yang diangkat pun seragam, kehidupan orang-orang bawah. Bagi saya, tema ini adalah “istirahat” sejenak dari bacaan saya yang akhir-akhir ini lebih banyak bertema kehidupan urban yang cenderung hedon.

Cerpen pertama, Mata yang Enak Dipandang, adalah cerpen yang langsung membuat saya jatuh hati, sama seperti film pendeknya. Berkisah tentang pengemis buta dan penuntunnya, yeng merindukan orang-orang yang matanya enak dipandang. Kisah yang mengharukan ini menjadi salah satu favorit saya di buku ini.

Bila Jebris Ada di Rumah Kami, bercerita mengenai rumor tidak sedap tentang kehidupan Jebris yang mulai meresahkan warga dusunnya. Rumor tersebut juga memengaruhi Sar, sahabat masa kecil Jebris. Cerpen ini memberikan pandangan berbeda tentang bagaimana menyikapi sebuah prasangka. Tentang bagaimana mengutamakan kebaikan untuk sesama.

Penipu yang Keempat adalah salah satu cerpen favorit saya. Ceritanya sederhana, tentang para penipu yang tentunya sering sekali hadir dalam hidup kita. Tapi ending-nya itu lho, yang membuat saya mikir “ah, iya ya.”

Daruan menceritakan tentang seorang penulis baru yang ingin karyanya diakui, dibeli, dan berharap karyanya tersebut bisa menghasilkan rupiah. Tapi memang kan, hidup ini sulit. Begitu juga dengan nasib novel penulis baru ini, yang menjadi gantungan asa Daruan, malah berakhir pahit.

Warung Penajem ini mengingatkan saya pada FTV-FTV religi yang dulu sering diputar di TV. Ceritanya tentang orang bawah, lagi-lagi, yang ingin memakmurkan hidup. Tetapi caranya memakmurkan hidup ini dengan cara pergi ke orang pintar alias minta pesugihan. Saya rasa ini juga potret nyata yang sering terjadi pada orang kecil di pedesaan.

Paman Doblo Merobek Layang-Layang. Ini kisah tentang ironi betapa harta dan jabatan bisa menghapus senyum seseorang. Bisa menjungkirbalikan karakter seseorang. Saya rasa banyak Paman Doblo- Paman Doblo lain yang dekat dengan kehidupan kita. Membaca cerpen ini rasanya getir.

Kang Sarpin Minta Dikebiri mengisahkan seorang pendosa yang ingin bertobat. Pendosa yang tidak disukai oleh orang-orang dikampungnya ini meninggal dunia sebelum dia sempat bertobat. Apakah dia termasuk orang baik atau orang buruk? Kan dia punya kemauan untuk bertobat? Siapa yang berhak menghakimi Kang Sarpin, si pendosa ini? Manusia tidak pernah tahu catatan amal orang lain. Lah kok orang lain, catatan amalnya sendiri saja manusia tidak bakal mengetahuinya kok, sebelum nanti dihisab di hari perhitungan. Cerpen ini juga masuk dalam kategori favorit saya.

Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan, cerpen terfavorit dalam buku ini versi saya! Sindiran halus yang disampaikan Pak Ahmad Tohari dalam cerpen ini begitu mengena. Tentang Karsim yang ingin menyeberang jalan demi menuju ladang jadi-jadiannya, tetapi tidak pernah diberi kesempatan oleh para “raja” jalanan yang congkak dan tak mau mengalah. Pada akhirnya, Karsim dapat menyeberang jalan dengan cara yang unik. Pada saat itulah pula dia bisa melihat seperti apa wajah-wajah “raja” jalanan tersebut sesungguhnya.

Sayur Bleketupuk ini maksudnya agak susah untuk saya cerna, jujur saja. Butuh dua kali membaca ulang sampai saya “ngeh” dengan pesan cerita ini. Pesannya sih sederhana saja ; jangan mudah berprasangka. Kebanyakan berprasangka bisa-bisa menimbulkan petaka.

Rusmi Ingin Pulang juga berkisah tentang prasangka. Prasangka buruk yang dijatuhkan pada Rusmi hanya karena ia seorang janda dan merantau ke kota. Pada akhirnya prasangka-prasangka tersebut tinggal prasangka belaka.

Dawir, Turah, dan Totol adalah potret kehidupan para tunawisma yang menggelandang di terminal. Membacanya membuat saya miris. Betapa kehidupan yang aneh. Betapa kehidupan yang tak lazim tapi mungkin sebenarnya banyak di seitar kita, dan kita terlewat menyadarinya.

Harta Gantungan. Duh, cerpen ini membuat saya terharu. Bercerita tentang seorang tua sebatang kara yang tidak pernah ingin memberatkan tetangganya jika kelak ia meninggal. Pak tua ini mempunyai seekor kerbau yang dijadikannya harta gantungan, dana cadangan untuk urusan kematiannya nanti. Cerita Kang Nurya Kebo ini mengingatkan saya akan tetangga saya yang juga tinggal dengan sapinya. Untunglah, tetangga saya tersebut sekarang mau tinggal bersama keponakannya.

Pemandangan Perut sukses membuat saya bergidik ngeri. Ngeri membayangkan pemandangan apa yang tengah terputar di dalam perut saya. Sardupi dapat membuat orang-orang menjadi tinggal tulang-belulang hanya dengan matanya. Dia juga dapat melihat pemandangan yang terputar di perut orang-orang. Nyatanya tak semua pemandangan perut itu indah, terutama pemandangan perut orang-orang dewasa.

Salam dari Penyangga Langit agak-agak berbeda dari cerpen lainnya. Cerpen kali ini bertema religi yang saya dapat sekali menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Bapak saya juga seperti Markatab, yang ikut tahlilan di desa karena ingin ikut menjadi denyut kehidupan desa. Tetapi apa salahnya dengan keinginan tersebut? Sebuah keinginan yang sangat manusiawi, kan? Tapi bedanya, Bapak saya belum pernah dapat salam dari Para Penyangga Langit, hehehe.

Bulan Kuning Sudah Tenggelam menjadi penutup kumpulan cerpen ini. Cerpen ini juga merupakan cerpen terpanjang dalam buku ini, dan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama mengisahkan pertentangan antara anak dan orangtua yang berujung pada penyesalan sang anak. Bagian kedua bercerita tentang kehidupan rumah tangga sang anak dan juga nasihat ibunda yang diberikan pada sang anak untuk menghadapi masalah rumahtangganya.
Lima belas cerpen dari Ahmad Tohari ini saya beri empat bintang dari lima bintang. Sebuah pengalaman membaca yang sangat menyenangkan!

Oh, ya. Bagi yang ingin melihat film pendeknya, ini dia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s