Review – Fangirl

This review is about Indonesian Edition of Fangirl by Rainbow Rowell, so the review will be in Bahasa Indonesia. Got this book from Penerbit Spring. Thank you, Penerbit Spring! ^^

Title : Fangirl
Author : Rainbow Rowell
Translator : Wisnu Wardhana
Publisher : Penerbit Spring
Published : November 2014 (Indonesian Edition)
Page : 456 pages
My Rating : 4/5


Cath dan Wren—saudari kembarnya—adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya! Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil. Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?

Thought on This Book :

 

We all be like, scream

image source : junkee.com

 

Novel ini dan review ini rasanya personal sekali buat saya, hahahaha.

Sebenarnya, saya sudah pernah membaca Fangirl sebelum ini,  tapi belum sempat menuliskan review yang layak untuk novel cantik ini. Jadi ketika saya punya kesempatan untuk baca versi terjemahannya yang diterbitkan oleh Penerbit Spring, saya langsung sikat saja novel ini (emm, ngomong-ngomong, Penerbit Spring ini imprint dari Penerbit Haru yang selama ini sudah terkenal sukses dalam urusan menerbitkan novel-novel dari Asia, lho ). Apalagi kovernya juga, argh, cute abis. Tidak kalah dengan kover aslinya.

Terjemahannya… oke lah. Nggak terlalu membingungkan. Lumayan sesuai dengan versi Bahasa Inggrisnya. Meskipun tentu saja membandingkan antara versi asli dan versi terjemahan, gaya bahasa yang digunakan juga terasa berbeda ^^;.

Novel ini bercerita tentang Cath, seorang pengarang fanfiksi (seperti saya! Tapi saya pakai k-pop idol atau chara anime, hehehe) dalam fandom Simon Snow, buku serial penyihir yang bestseller. Dia adalah seorang fangirl fanatik, lebih menyukai dunia fiksinya daripada dunia nyata. Dia punya saudara kembar yang sifatnya bertolak belakang dengan Cath, dan seorang ayah yang depresinya sering kambuh.

Saya suka ide dasarnya. Tentang fangirling . Tentang hidup di fandom. Saya merasa bisa relate dengan keadaan saya. Saya paham banget bagaimana perasaan Cath, karena sedikit banyak saya juga mengalaminya. Menginginkan OTP kita bersatu? Pasti. Dituntut sama para pembaca untuk cepat-cepat mem-post bab baru dari sebuah fanfiksi? Pernah juga kok ngerasain. Bedanya saya nggak sekeras Cath untuk menghindari dunia nyata. Saya rasa penyebab sifat Cath yang kelewat tertutup ini, selain dasarnya Cath introvert, dia mengalami trauma masa kecil setelah ibunya minggat. Yang juga dialami Wren dan Dad juga, sebenarnya.

Tetapi, sebenarnya novel ini bukan melulu tentang fanfiksi, kok. Di novel ini, lebih banyak mengulas tentang perkembangan karakter-karakternya dan juga tentang keluarga. Tentu saja ada bumbu romansa di dalamnya. Tetap saja saya rasa faktor keluarga adalah yang paling menonjol, selain karakter Cath sendiri.

Saya cinta karakter-karakter dalam Fangirl, dan saya akan membahas ini cukup banyak. Mungkin review ini bias dari diri saya, karakter mereka begitu nyata, begitu dekat di hati saya. Cath, seperti saya dalam versi yang lebih hardcore. Wren, seperti sahabat saya tapi dalam versi yang ekstra hardcore. Saya suka sekali dengan hubungan persaudaraan Cath dan Wren, yang meskipun tidak berjalan selalu mulus, tapi akhirnya mereka menemukan cara untuk memperbaikinya. Saya suka Dad. Meskipun Dad sering depresi, tapi rasanya saya bisa mengerti. Ditinggalkan istri saat kedua anak gadisnya masih kecil pasti membuatnya mengalami sakit hati dan kesedihan yang dalam. Dad tidak sempurna dan dia punya banyak cela, tapi saya suka Dad yang benar-benar sayang pada Cath dan Wren.

Saya suka Reagan. Ya ampun , cewek ini, badass! Mungkin Reagan adalah tipe teman yang pengen banget saya miliki. Dia bukan tipe teman yang suck-up, lebih ke kejam, malahan. Tapi Reagan cool dan asyik, dan cara Reagan menunjukkan kalau dia care pada Cath itu… keren.

Levi! Jangan lupakan Levi! Levi is… just so cute. I can’t resist his cuteness. Di novel-novel lain, biasanya saya lebih suka tipe cowok yang cuek dan agak dingin (emangnya es batu? hihi), tapi saya sukses jatuh cinta pada Levi di novel ini. Saya heran dengan Rainbow Rowell, kok bisa sih dia selalu membuat saya jatuh hati pada karakter-karakter utama cowoknya.

Pada saat saya membaca versi Bahasa Inggris, jujur, saya banyak melewati bagian-bagian fanfiksi yang ada di dalam buku. Saya lebih senang fokus pada plot utama dan karakter-karakternya. Bagi saya, bagian-bagian fanfiksi itu tidak terlalu penting, cuma filler. Apalagi pas ceritanya lagi cute-cute-nyatiba-tiba ditengahnya diselipkan fanfiksi Simon dan Baz. Saya langsung merasa terganggu dan bete. Ketika saya baca versi ini, saya memantapkan hati untuk membaca bagian-bagian itu. Setelah membacanya, pandangan saya masih nggak berubah juga ^^;. Masih nggak ngerti fungsi fanfiksi panjang lebar di dalam cerita.

Jadi setelah penjabaran panjang lebar saya di atas, intinya saya suka banget dengan novel ini. Mungkin kalau porsi fanfiksi Simon dan Baz dikurangi (paling tidak fanfiksi-fanfiksi yang dibacakan Cath ) , saya akan benar-benar menyukai novel ini. Eh, tapi sekali lagi itu tergantung pembacanya, sih, hehehe.

Saya rasa, bagi kamu yang juga seorang fangirl, yang hidup dalam fandom seperti Cath (dan juga saya), kamu akan menikmati novel ini ^^.

 

Ada beberapa bagian favorit saya di novel ini :


“Kenapa kita menulis fiksi?” tanya Profesor Piper.
Cath menunduk menatap buku catatannya.
Untuk menghilang. –hal. 28

 

Yang bikin Lol. Para fangirl fanatik pasti bisa relate dengan ini :


“Aku mencium Abel.”
“Oh. Cath, hentikan. Kau membuat otakku muntah.”
“Kami sudah pacaran selama tiga tahun. Dia pacarku.”
“Kau memiliki perasaan yang lebih kuat untuk Baz dan Simon.”–hal. 41

Bonus pic quote cantik :

 

Cheers ,

Ra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s