Review – Walking After You


Title : Walking After You
Author : Windry Ramadhina
Publisher : Gagasmedia
Published : December 2014
Page : 320 pages
My Rating : 4/5


Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Thought on This Book :

“Itu masa lalu. jangan terjebak didalamnya terlalu lama.” – Julian

Membicarakan masa lalu, sepertinya memang tak akan ada habisnya.
Begitu pula dengan hujan dan nuansa sendu yang ikut terbawa, kita semua pernah merasakannya.

An menyukai masakan Italia dan bau rempah-rempah, seperti namanya. Arlet yang manis dan pemalu, menyukai kue-kue manis dan krim lembut yang membuat hari jadi lebih baik. Mereka juga pernah punya mimpi yang sama, tentang trattoria yang dicetuskan An. Tetapi mimpi itu belum sempat terwujud.

Bercerita tentang masa lalu yang mengungkung An, novel ini menyertakan hujan di dalamnya. An masih dibayangi rasa bersalah atas kepergian Arlet, saudari kembarnya, dan memutuskan untuk menebus kesalahannya tersebut dengan cara mengejar impian Arlet. An pun menjadi Arlet. Dia berjuang untuk menyukai kue-kue manis seperti Arlet dan bekerja di toko kue bernama Afternoon Tea. Di sana dia bertemu Julian, koki pemalu tapi galak yang mengingatkannya pada Arlet. Lalu ada juga Ayu, perempuan kelabu yang membawa hujan bersamanya. Kemudian Jinandra, yang muncul kembali dari masa lalu.

Novel ini berkisah tentang usaha An untuk berdamai dan melepaskan masa lalu. Tentang usahanya untuk melihat pelangi setelah hujan.

Ini novel Windry Ramadhina ke-empat yang saya baca. Untuk tulisannya, nggak usahlah ya, dibahas panjang lebar. Intinya, gaya menulis Kak Windry ini sudah cocok sama saya. Sendunya pas, ada sedikit adegan-adegan lucu (ini sih gara-gara salting-nya Julian) yang terselip. Mau gimana juga sepertinya ini faktor utama yang membuat saya terus-menerus craving akan tulisan beliau deh.

Karakter An ternyata nggak seperti yang saya duga. Saya sempat mengantisipasi aura suram yang barangkali pekat mengelilingi An. Tetapi tidak. Meskipun dia perempuan yang terjebak masa lalu, tapi di luar dia periang. Kejahilannya membuat saya senyum-senyum. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan Julian. Lelaki pemalu yang suka marah-marah itu benar-benar sukses membuat saya nyengir geli. Baru kali ini nemu tokoh lelaki se-menggemaskan ini, hahaha. Jadi pengen deh, satu Julian buat dibawa pulang. (lah)

Plotnya banyak menggunakan flashback. Saya sebenarnya bukan penggemar plot campur maju-mundur berselang-seling, sih. Tapi penulisannya apik, jadi saya nggak bisa protes banyak juga, hahaha. Banyak taburan kue-kue yang bikin ngiler, walaupun sebenarnya saya lebih mirip An, lebih suka makanan yang gurih. Banyak istilah kuliner dan sisipan bahasa Italia yang seksi abis. Adegan-adegan dapur mengingatkan pada seri Amour et Chocolate-nya Laura Florand (bener nggak sih nulisnya?) yang banyak kue-kue Perancis. Nyamm.

Kehadiran Ayu di novel ini membuat saya berharap cerita Ayu akan segera ditulis. Saya bertemu Ayu di London : Angel, dan rasa penasaran merambati ketika kembali bertemu dengan Ayu di Walking After You. Apa yang terjadi pada Ayu dan Gilang?


Galuh benar. Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengan menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri. Aku tidak berkata ini mudah. Dan, ini akan butuh waktu. Tetapi, pada saatnya nanti, aku akan terbebas dari semua beban yang menekanku selama ini.

Membaca Walking After You mengingatkan saya pada seorang sahabat yang kelewat mirip dengan saya. Meskipun tidak kembar, orang-orang di sekitar kami sering menyebut kami kembar. Kegemaran kami pun hampir sama. Dan seperti An, terkadang ada hutang-hutang yang belum terlunasi. Mungkin setelah ini saya harus mengingat-ingat ada hutang apa saja di antara kami, hahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s