Review – Little Women – Gadis-Gadis March (#1)


Title : Little Women – Gadis-Gadis March (#1)
Author : Louisa May Alcott
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Published : November 2014
Page : 376 pages
My Rating : 4.5/5


Kisah kehidupan keluarga March yang mempunyai empat orang putri, tinggal di daerah Concord, Amerika Serikat pada abad ke-19. Meg yang cantik, Jo yang tomboi, Beth yang rapuh, dan Amy yang artistik. Bersama Laurie, pemuda tetangga yang menjadi teman mereka sejak kecil, keempat gadis ini berusaha meraih impian masing-masing di tengah kondisi keluarga yang berat dan tengah ditinggal sang ayah yang harus ikut berperang.

Thought on This Book :

Sejujurnya, membaca Little Women adalah suatu perjalanan pulang bagi saya. Rasanya seperti kembali ke masa kecil, di rumah saya yang terletak di sebuah desa.

Little Women bercerita tentang kesederhanaan keluarga March dengan gadis-gadis yang beranjak remaja. Meg yang cantik, Jo yang tomboy, Beth yang pemalu, dan Amy si bungsu yang berambut pirang, tinggal bersama Ibu mereka di rumah kecil di  desa. Mereka hidup dalam kesederhanaan di masa sulit tersebut, sementara Ayah mereka pergi ke medan perang.

<link>

Sebenarnya, menurut saya tidak ada yang istimewa dalam ceritanya. Tidak ada konflik yang benar-benar kuat. Ini benar-benar hanya sebuah cerita slice of life biasa.

Tapi cerita “biasa” inilah yang membuat Little Women istimewa bagi saya. Rasanya seperti istirahat setelah hari yang panjang dan sibuk. Pace yang lambat tidak membuat saya merasa bosan. Saya menikmati cerita-cerita keseharian gadis-gadis March yang penuh kepolosan dan juga keceriaan. Dari pengalaman Meg menginap di rumah temannya yang kaya, persahabatan gadis-gadis March dengan Laurie, cita-cita Jo menjadi penulis, sifat malu Beth dan juga eksperimen Amy.

Persahabatan Jo dengan Laurie adalah magnet tersendiri buat saya. Keisengan mereka, energi dan juga semangat berpetualang yang meluap-luap membuat persahabatan mereka begitu manis. Mengingatkan akan teman bermain pada waktu kecil dulu.

Sosok lain yang saya sukai dari Little Women adalah tokoh Marmee, atau Mrs. March. Kesederhanaannya membuat hati saya menghangat. Kepeduliannya pada sekitar membuat saya ingin berbuat seperti itu. Juga cinta kasih yang diberikannya pada keluarganya, walaupun di masa sulit, begitu tulus.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada saat-saat saya mojok di perpustakaan sekolah dasar dulu, membaca buku-buku berdebu yang jarang disentuh.  Buku-buku perpustakaan (yang sebagian besar buku Balai Pustaka hasil sumbangan pemerintah) tersebut kebanyakan bercerita tentang anak-anak, kehdupan sehari-hari, desa-desa indah, dan juga impian-impian yang menanti untuk diwujudkan. Little Women, mengingatkan saya akan masa-masa itu, buku-buku masa kecil tersebut.

Cheers,

Ra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s