Review – American Gods (Dewa-Dewa Amerika)


Title : American Gods (Dewa-Dewa Amerika)
Author : Neil Gaiman
Translator : Lulu Wijaya & Ariyantri E. Tarman
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Published : Januari 2012
Page : 784 pages
My Rating : 4/5


Badai akan datang…

Menjalani masa hukuman tiga tahun di penjara, Shadow melalui hari-harinya dengan tenang, menunggu dengan sabar hari ketika dia bisa kembali ke Eagle Point, Indiana. Pria yang tidak lagi takut akan yang mungkin terjadi esok, yang dia inginkan hanyalah kembali bersama dengan Laura, istri yang sangat dia cintai, dan memulai kehidupan baru.

Tetapi beberapa hari sebelum dia dibebaskan, Laura dan sahabat Shadow tewas dalam kecelakaan mobil. Hidupnya berantakan dan kehilangan arah, Shadow memutuskan untuk menerima pekerjaan dari orang asing yang memesona yang Shadow temui dalam perjalanan pulang. Pria misterius itu menamakan dirinya Mr. Wednesday, yang sepertinya lebih memahami Shadow daripada dirinya sendiri.

Kehidupan sebagai pelindung, sopir, dan pesuruh Wednesday ternyata lebih menarik dan berbahaya daripada yang dibayangkan Shadow––pekerjaan ini membawanya melalui perjalanan gelap dan aneh dan memperkenalkannya kepada karakter-karakter eksentrik dengan takdir yang bertautan dengan takdir Shadow sendiri. Shadow belajar bahwa masa lalu tidak pernah mati; bahwa semua orang, termasuk Laura yang dia cintai, menyimpan rahasia; dan bahwa mimpi, totem, legenda, dan mitos sebenarnya lebih nyata daripada yang kita ketahui. Puncaknya, dia akan menemukan di balik permukaan tenang kehidupan sehari-hari, ada badai datang––dan peperangan epik untuk jiwa Amerika––dan dia berdiri di tengah-tengah semua itu.

“Gaiman memiliki tangan cekatan dengan mitologi-mitologi yang dia permainkan dalam buku ini.” ––New York Times Book Review

“Jika Anda menyukai Little, Big dari John Crowley, atau The Stand dari Stephen King atau fiksi urban horror karya Jonathan Carroll…maka American Gods datang tepat pada waktunya.” ––Washington Post

American Gods memenangkan penghargaan Hugo Award for Best SF/Fantasy Novel, Bram Stoker Award for Best Horror Novel, Locus Award for Best Fantasy Novel, Nebula Award for Best Novel.

Thought on This Book :

Amerika adalah tanah tempat berkumpulnya para dewa dari seluruh dunia. Dewa-dewa lokal yang terlupakan, dewa dari tanah seberang yang datang bersama migrasi penduduk ke benua baru. Kini, di masa modern ini, dewa-dewa modern bermunculan bersamaan dengan datangnya teknologi.

Dewa-dewa tersebut siap untuk berperang, memperebutkan klaim mereka atas tanah yang dijanjikan. Pada saat inilah, Shadow menemukan dirinya terjebak diantara badai perang para dewa. Bermula dari seorang Mr. Wednesday yang mata kananya terbuat dari kaca, Shadow menjelajahi Amerika dan bertemu para dewa lama. Dari Anansi sampai Easter, juga dewa-dewa baru yang lahir dari modernisasi.

Odin, Bapa Segala Sesuatu dari Mitologi Skandinavia, Penungasa Valhalla. cr : wikipedia

Karakter utama dari buku inia dalah Shadow. Seorang mantan narapidana yang akhirnya bebas setelah tiga tahun di penjara. Shadow ini tokoh yang seharusnya, dari sisi manapun tidak menonjol kecuali badan besarnya. Ia tidak banyak menunjukkan emosi, bahkan berkaitan dengan kematian istrinya ataupun saat istrinya yang sudah mati tiba-tiba berubah menjadi mayat hidup. Pikiran-pikirannya juga tidak terlalu menarik, tapi sejarah Shadow lah yang malah lebih menarik.

Petualangan Shadow di belantara dewa-dewa ini benar-benar seru untuk diikuti. Meskipun lumayan detail dalam jalan ceritanya, tetapi tidak terasa membosankan. Mungkin karena pace-nya termasuk cepat tanpa ada banyak waktu istirahat. Tidak banyak aksi-aksi yang menegangkan (Ya iyalah. Thriller juga bukan), tapi saya sangat menyukai pertemuan-pertemuan Shadow dengan tiap dewa.

Lucunya, dewa-dewa di sini digambarkan secara sangat manusiawi. Ya, saya sendiri tahu sih biasanya dewa-dewa dalam mitologi seperti Yunani ataupun Hindu cukup memberikan rasa ‘manusia’, tapi lucu juga karena di sini dewa-dewa tersebut berusaha untuk beradaptasi dengan perkembangan jaman, sementara pengaruh mereka mulai pudar dan terbayangi oleh kehadiran dewa-dewa baru.

American Gods Fanart. cr : link

Selain itu, diselipkan banyak sejarah kedatangan dewa-dewa ke amerika. Ada juga sedikit interlude mengenai kehidupan dewa yang tidak pernah ditemui Shadow, berjalan paralel dengan cerita utama.

Ini adalah buku pertama Neil Gaiman yang saya baca. Agak heran juga, karena selama ini saya terus menimbun buku-bukunya tetapi tidak pernah memberi kesempatan sebelum ini. Saya agak takut dengan ekspektasi saya yang cukup tinggi terhadap penulis kenamaan ini. Tapi suatu hari saya melihat ada Read Big Challenge, yaitu tantangan menyelesaikan buku bantal dengan halaman lebih dari 500 halaman. Dari situ saya mulai tergerak untuk segera melahap buku ini.

Dari ekspektasi awal saya, buku ini memenuhi ekspektasi tersebut. Penuturan tentang mitologi-mitologi dari beraneka bangsa membuat saya tenggelam di dalamnya. Plot twist di bagian-bagian tengah dan akhir sukses bikin saya merasa “haah” dalam artian yang baik. Sempat panik juga disuguhi twist seperti itu. Tapi secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca buku ini.

Cheers,

Ra

Bagian dari :
NARC 2015
Read Big Challenge 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s